Robot Penangkap Nyamuk Dari Microsoft

Epidemi Zika yang muncul di Brasil pada tahun 2015 dan menyebabkan ribuan bayi yang menderita cacat lahir telah menambahkan urgensi untuk melakukan tindakan pencegahan.

Sementara kasus di Brazil telah melambat secara nyata, nyamuk yang mampu membawa virus tersebut – Aedes aegypti dan Aedes albopictus – telah menyebar di Amerika, termasuk di bagian selatan Amerika Serikat.

Sebagian besar dari 5.365 kasus Zika yang dilaporkan di negeri paman Sam, sejauh ini berasal dari pelancong yang terjangkit virus di luar Amerika Serikat. Namun, Texas dan Florida telah mencatat kasus yang ditularkan oleh nyamuk lokal, membuat dua negara bagian ini menjadi basis pengujian utama untuk teknologi baru.

Di Texas, 10 perangkap nyamuk buatan Microsoft beroperasi di Harris County, yang meliputi kota Houston.

Alat yang kurang lebih seukuran sangkar burung, di dalamnya terpasang perangkat yang menggunakan robotika, sensor inframerah, mesin analisa dan komputasi awan untuk membantu petugas kesehatan mengawasi serangga pembawa penyakit potensial.

Texas mencatat enam kasus transmisi nyamuk lokal pembawa Zika pada bulan November dan Desember tahun lalu. Para ahli meyakini angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari yang tercatat, hal ini didasarkan pada kebanyakan orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala.

Yang paling beresiko tinggi adalah wanita hamil, karena bisa menularkan virus ke janin mereka, dan mengakibatkan berbagai cacat lahir. Salah satunya ialah microcephaly, kondisi di mana bayi dilahirkan dengan tengkorak dan otak berukuran kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan keadaan darurat kesehatan global Zika pada bulan Februari 2016.

170216-premonition-630x433

(Peneliti dari Microsoft, Ethan Jackson sedang menyiapkan smart trap)

Sebagian besar perangkap nyamuk konvensional menangkap semua yang masuk seperti ngengat, lalat, varietas nyamuk lainnya, dan meninggalkan setumpuk spesimen yang membuat para ahli entomologi bekerja keras memilah. Mesin Microsoft mampu membedakan jenis serangga dengan mengukur ciri khas masing-masing spesies berdasar bayang-bayang yang dilemparkan oleh gerakan sayap. Ketika jebakan mendeteksi Aedes aegypti di salah satu dari 64 biliknya, pintu otomatis tertutup.

Mesin tersebut “bisa membuat keputusan tentang apakah akan menjebaknya atau tidak,” kata Ethan Jackson, seorang insinyur Microsoft yang sedang mengembangkan perangkat ini. Smart Trap yang berada Houston, dan sudah dimulai pada musim panas yang lalu, menunjukkan bahwa perangkap tersebut dapat mendeteksi Aedes aegypti dan nyamuk penting lainnya dengan akurasi 85%, ungkap Jackson.

Sumber : geekwire

 

Post Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *