Kisah Ayah Dan Anak Buta

Adalah seorang laki – laki dewasa yang dikenal orang di kampungnya sebagai orang yang gemar melakukan perbuatan baik. Laki – laki itu hidup di masa pemerintahan Dinasti Song.
Laki – laki ini memiliki seorang putra laki –laki yang beranjak menjadi seorang pemuda. Selain itu, laki – laki ini juga memelihara beberapa ekor sapi. Hewan peliharaannya ini berwarna hitam, dan sudah akan beranak.

Suatu hari, sapi hitam piaraannya tersebut beranak seekor anak sapi putih. Melihat keanehan itu, ia kemudian bertanya kepada Sang Guru Suci, orang yang dihormatinya dan orang – orang yang di kampungnya itu. Mendapat pertanyaan itu, sang Guru Suci berkata: “Ini pertanda baik! Sebaiknya persembahankan kepada Tuhan, sebagai bentuk ucapan syukurmu.”

Setelah lewat setahun dari peristiwa aneh itu, mendadak si ayah menjadi tunanetra tanpa ada sebab musabab. Tidak lama kemudian lahir lagi seekor sapi putih. Sama seperti kejadian awal. Sang ayah mengutus anaknya untuk pergi menemui Sang Guru Suci, tapi anaknya berkata: “dulu, ayah menjadi buta setelah bertanya kepada beliau, sekarang, untuk apa ayah menyuruhku pergi kepada sang Guru Suci lagi?”

Sang ayahpun menjawab, ” Anakku, ucapan Sang Guru Suci pada awalnya memang sulit dicerna, namun akan berakhir dengan kebenaran.” lanjutnya “Apalagi soal anugerah atau kemalangan yang sangat jelas diketahui oleh Beliau. cepatlah kamu pergi bertanya!” ujar sang ayah.

Akhirnya, si anak pergi menemui Sang Guru Suci. Sesampai di tempat tinggal sang Guru Suci, anak bertemu dengan beliau dan menanyakan perihal yang dialami oleh ayahnya. “Ini alamat baik!” jawab Sang Guru, kembali lagi Sang Guru Suci menyarankan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Mendengar jawaban sang Guru Suci, anak itu pulang dengan penuh kebingungan, si anak memberitahukan kepada ayahnya semua jawaban yang ia terima dari sang Guru Suci. Sang ayah berkata:”Turuti saja apa yang dikatakan oleh Sang Guru.” Sekalipun masih penuh dengan kebingungan, sang anak menuruti saja perintah ayahnya tersebut.

Kira-kira setahun kemudian, sang anak juga mendadak buta tanpa sebab. Ayah dan anak menjadi sama – sama buta, tetangga – tetangganya menganggap keluarga ini mengalami kemalangan. Berselang beberapa bulan kemudian, tiba – tiba negara CHU menyerang ibukota negara SONG. Peperangan yang sengit dan cukup lama ini membuat para serdadu yang terkepung kehabisan ransum, akhirnya memakan anak sendiri dengan buas. Karena kehabisan kayu bakar, tulang manusia dijadikan sebagai bahan bakar. Semua pemuda yang sehat dikerahkan menjadi pasukan perang. Banyak diantara mereka gugur. Hanya ayah beranak yang buta itu terhindar dari musibah peperangan. setelah perang usai, kedua ayah beranak itu dapat melihat kembali.
Seringkali, banyak orang yang menganggap masalah, kemalangan yang menimpa adalah sebuah hal yang buruk dan hanya mendatangkan dukacita dan tangisan. Namun seringkali, kalo kita mau memperhatikan setiap kejadian yang kita alami, pastinya Tuhan turut campur tangan. Bahkan Tuhan ijinkan permasalahan, dukacita, kemalangan datang ke dalam kehidupan kita hanya untuk dua alasan, yang pertama untuk menguji kita apakah semakin mengandalkan Tuhan atau tidak, sedangkan yang kedua adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Diolah dari : www.kisahmotivasihidup.blogspot.co.id

Post Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *